MODUL 4
APLIKASI : KONTROL KUMBUNG BUDIDAYA JAMUR
1. Pendahuluan[Kembali]
Budidaya jamur tiram membutuhkan kondisi lingkungan yang stabil, terutama kelembapan media tanam dan ketersediaan air. Pada metode konvensional, pengecekan dilakukan secara manual sehingga memerlukan waktu, tenaga, dan sering menyebabkan kondisi kumbung tidak terkontrol dengan baik. Media yang terlalu kering atau air penyiraman yang habis tanpa disadari dapat menghambat pertumbuhan jamur dan menurunkan hasil panen.
Untuk mengatasi hal tersebut, dibuat sistem kontrol otomatis menggunakan sensor soil moisture dan sensor water level. Sensor soil moisture berfungsi memantau kelembapan media, sementara sensor water level mendeteksi ketersediaan air dalam penampungan. Jika media terlalu kering, mikrokontroler akan mengaktifkan pompa secara otomatis hingga kondisi kembali ideal. Apabila air penampungan habis, buzzer akan berbunyi sebagai tanda peringatan agar dilakukan pengisian.
Sistem ini juga dilengkapi mode manual melalui tombol atau sensor sentuh untuk pengecekan atau pengoperasian langsung. Dengan penerapan sistem ini, budidaya jamur tiram menjadi lebih efisien, penggunaan air lebih terkontrol, serta kondisi lingkungan lebih stabil sehingga hasil panen dapat meningkat.
Budidaya jamur tiram membutuhkan kondisi lingkungan yang stabil, terutama kelembapan media tanam dan ketersediaan air. Pada metode konvensional, pengecekan dilakukan secara manual sehingga memerlukan waktu, tenaga, dan sering menyebabkan kondisi kumbung tidak terkontrol dengan baik. Media yang terlalu kering atau air penyiraman yang habis tanpa disadari dapat menghambat pertumbuhan jamur dan menurunkan hasil panen.
Untuk mengatasi hal tersebut, dibuat sistem kontrol otomatis menggunakan sensor soil moisture dan sensor water level. Sensor soil moisture berfungsi memantau kelembapan media, sementara sensor water level mendeteksi ketersediaan air dalam penampungan. Jika media terlalu kering, mikrokontroler akan mengaktifkan pompa secara otomatis hingga kondisi kembali ideal. Apabila air penampungan habis, buzzer akan berbunyi sebagai tanda peringatan agar dilakukan pengisian.
Sistem ini juga dilengkapi mode manual melalui tombol atau sensor sentuh untuk pengecekan atau pengoperasian langsung. Dengan penerapan sistem ini, budidaya jamur tiram menjadi lebih efisien, penggunaan air lebih terkontrol, serta kondisi lingkungan lebih stabil sehingga hasil panen dapat meningkat.
2. Tujuan[Kembali]
Tujuan dari perancangan sistem kontrol budidaya kumbung jamur ini adalah sebagai berikut:
- Merancang prototipe sistem kontrol budidaya jamur berbasis sensor water level dan soil moisture untuk memantau kelembapan media dan ketersediaan air.
- Mengendalikan pompa secara otomatis berdasarkan kondisi sensor serta menggunakan buzzer sebagai alarm jika terjadi kekurangan air atau kelembapan tidak sesuai.
- Meningkatkan efisiensi budidaya dengan menjaga kondisi media tetap optimal sehingga pertumbuhan jamur lebih stabil dan hasil panen lebih baik.
3. Alat dan Bahan [Kembali]
Bahan
1. OP AMP (TL 082)
Sensor water level adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk mendeteksi ketinggian air dan mengubahnya menjadi sinyal listrik yang dapat dibaca oleh sistem kontrol. Sensor water level yang digunakan dalam penelitian ini berupa modul pendeteksi level air yang bekerja berdasarkan prinsip konduktivitas listrik antara elektroda dan air. Ketika permukaan air menyentuh bagian sensor, rangkaian akan menghasilkan perubahan sinyal yang menunjukkan kondisi level air, apakah dalam keadaan rendah, sedang, atau tinggi.
Sensor ini memiliki kelebihan berupa desain yang sederhana, sensitivitas yang baik, serta kemudahan dalam proses integrasi dengan mikrokontroler. Selain itu, sensor water level memiliki respon yang cepat dan stabil sehingga dapat digunakan untuk sistem monitoring maupun otomatisasi. Dengan karakteristik tersebut, sensor ini tidak memerlukan proses kalibrasi yang rumit dan dapat langsung digunakan pada sistem kontrol kelembapan atau penyiraman otomatis dalam aplikasi budidaya jamur ataupun sistem serupa.
6. SENSOR SOIL MOISTURE
Sensor soil moisture adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk mendeteksi kadar kelembapan tanah dan mengubahnya menjadi sinyal listrik yang dapat diproses oleh sistem pengendali. Sensor ini bekerja berdasarkan prinsip konduktivitas listrik, di mana nilai resistansi antara dua probe logam akan berubah sesuai tingkat kelembapan tanah. Saat tanah dalam kondisi basah, resistansinya rendah sehingga menghasilkan nilai pembacaan yang lebih tinggi, sedangkan ketika tanah kering resistansinya meningkat sehingga nilai pembacaan menjadi lebih rendah.
Sensor soil moisture yang digunakan dalam penelitian ini berupa modul pendeteksi kelembapan tanah tipe analog yang memiliki tingkat sensitivitas cukup baik dan mudah diintegrasikan dengan mikrokontroler. Sensor ini juga memiliki desain sederhana, konsumsi daya rendah, serta respon pengukuran yang cepat sehingga cocok digunakan pada sistem pertanian, otomasi irigasi, dan monitoring media tanam seperti pada budidaya jamur.
Dengan karakteristik tersebut, sensor soil moisture tidak memerlukan kalibrasi kompleks dan dapat langsung digunakan dalam sistem kontrol untuk mendeteksi kondisi tanah atau media tumbuh. Hal ini menjadikan sensor ini efektif sebagai alat bantu dalam menjaga kelembapan tetap dalam rentang ideal untuk mendukung pertumbuhan organisme seperti miselium jamur secara optimal.
8. POWER SUPPLY
4. Dasar Teori [Kembali]
A. SENSOR SOIL MOISTURE
Sensor soil moisture adalah sensor yang digunakan untuk mengukur kadar kelembapan pada media tanam atau tanah. Sensor ini bekerja dengan mendeteksi perubahan konduktivitas listrik pada tanah, di mana semakin tinggi kadar air, maka semakin rendah resistansi yang terukur, sehingga nilai kelembapan yang terbaca menjadi lebih tinggi. Pada sistem kontrol budidaya jamur, sensor ini berperan penting untuk memantau kondisi kelembapan media, karena jamur membutuhkan lingkungan yang lembap agar proses pertumbuhan berlangsung optimal. Dengan adanya sensor soil moisture, sistem dapat mengaktifkan atau menghentikan pompa air secara otomatis sehingga kelembapan tetap stabil tanpa perlu pengaturan manual.
B. SENSOR WATER LEVEL
Sensor ini sangat mudah dikombinasikan dengan modul mikrokontroler seperti Arduino karena nilai keluarannya sudah kompatibel dengan rangkaian logika dan sistem input digital maupun analog. Dengan konsumsi daya yang rendah dan respon yang stabil, sensor ini cocok digunakan pada sistem monitoring seperti akuarium, tangki air, hidroponik, serta sistem irigasi otomatis termasuk pada budidaya jamur tiram.
Jenis Sensor: Analog/Digital (bergantung tipe)
-
Output sensor dapat berupa nilai analog atau logika HIGH/LOW
-
Tegangan kerja umum: 3.3V–5V
-
Konsumsi daya rendah
-
Sensitivitas dapat dikalibrasi melalui perangkat lunak (untuk tipe analog)
-
Tahan terhadap kondisi lembap (khusus model anti korosi)
Kompatibel dengan mikrokontroler berbasis Arduino
Resistor
C. OP-AMP
Detektor non-inverting adalah rangkaian penguat operasional (op-amp) yang digunakan untuk mendeteksi dan memperkuat sinyal input tanpa membalik fasa sinyal tersebut. Artinya, polaritas sinyal keluaran tetap sama dengan sinyal masukan, tidak mengalami pembalikan seperti pada konfigurasi inverting.
Dalam konfigurasi ini, sinyal masukan diberikan ke terminal non-inverting (+) op-amp, sedangkan terminal inverting (–) digunakan sebagai umpan balik (feedback). Rangkaian ini mampu memperkuat sinyal kecil menjadi lebih besar dengan gain positif, sehingga sering digunakan pada sensor, detektor sinyal, dan sistem penguat otomatis.
Prinsip kerja detektor non-inverting adalah ketika sinyal input diberikan ke terminal non-inverting (+) pada op-amp, tegangan output akan mengikuti perubahan sinyal input tanpa membalik polaritasnya. Jika tegangan input melebihi tegangan referensi pada terminal inverting (–), maka output akan berubah ke tegangan maksimum positif, dan sebaliknya jika lebih rendah, output menjadi tegangan minimum (negatif). Proses ini memungkinkan detektor mengenali dan memperkuat perubahan sinyal input dengan cepat tanpa pembalikan fasa, sehingga sering digunakan dalam sistem pendeteksi level atau pembanding tegangan.
Detektor inverting adalah rangkaian elektronika yang menggunakan konfigurasi op-amp dengan sinyal input dimasukkan ke terminal inverting (–), sedangkan terminal non-inverting (+) dihubungkan ke tegangan referensi. Rangkaian ini berfungsi untuk mendeteksi perubahan sinyal masukan dengan menghasilkan keluaran yang berlawanan fasa (terbalik polaritasnya) terhadap sinyal input. Artinya, ketika tegangan input meningkat, output justru menurun, dan sebaliknya. Detektor inverting banyak digunakan dalam sistem kontrol dan penguat sinyal untuk menghasilkan respon kebalikan dari sinyal masukan.
Prinsip kerja detektor inverting yaitu ketika sinyal input diberikan pada terminal inverting (–) op-amp, maka output akan berubah dengan polaritas berlawanan terhadap sinyal masukan. Jika tegangan input lebih besar dari tegangan referensi pada terminal non-inverting (+), output akan menjadi negatif (−V_sat), sedangkan jika tegangan input lebih kecil, output berubah menjadi positif (+V_sat). Dengan demikian, detektor inverting bekerja dengan membalik fasa sinyal masukan dan menghasilkan keluaran yang menunjukkan kondisi perbandingan antara tegangan input dan referensi.


.jpeg)





Comments
Post a Comment